Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita Duka

Kepergian Anak SD di NTT Tinggalkan Duka, Dikenal Rajin Belajar Meski Hidup Terbatas

16
×

Kepergian Anak SD di NTT Tinggalkan Duka, Dikenal Rajin Belajar Meski Hidup Terbatas

Share this article
Sumber foto: liputan 6 com
Example 468x60

LIPUTANMAHASISWA.COM – NTT – Warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, diguncang peristiwa duka mendalam setelah seorang anak sekolah dasar ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri pada Kamis siang. Korban diketahui merupakan siswa kelas IV SD berinisial YBS, berusia sekitar 10 tahun.

Peristiwa tragis tersebut pertama kali diketahui oleh warga setempat yang sedang beraktivitas di sekitar kebun tidak jauh dari rumah nenek korban. Saat ditemukan, korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Kejadian ini sontak mengundang perhatian masyarakat sekitar dan menimbulkan rasa pilu mendalam, terutama karena korban masih berusia sangat belia.

Example 300x600

Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan warga dan tetangga sekitar, YBS dikenal sebagai anak yang memiliki kepribadian baik, sopan, serta jarang menunjukkan perilaku menyimpang. Ia juga disebut sebagai anak yang rajin belajar dan memiliki semangat untuk bersekolah, meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi yang cukup berat.

“Dari pengakuan para tetangga, anak ini tidak pernah membuat masalah. Dia dikenal pendiam, baik, dan tetap rajin belajar walaupun kondisi keluarganya sangat sederhana,” ujar Bernardus saat dimintai keterangan.

Menurut Bernardus, sehari sebelum kejadian, YBS sempat menginap di rumah ibunya. Pada saat itu, korban menyampaikan keinginannya untuk dibelikan buku tulis dan alat tulis sekolah. Namun, karena kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, sang ibu belum dapat memenuhi permintaan tersebut.

“Ibunya mengaku tidak memiliki uang saat itu. Ayah korban sendiri telah meninggal dunia sejak YBS masih berada dalam kandungan,” jelasnya.

Selama ini, YBS diketahui tinggal bersama neneknya yang sudah berusia sekitar 80 tahun. Sementara sang ibu tinggal terpisah di kampung sebelah bersama anak-anak lainnya. Kondisi ini membuat korban lebih sering hidup sendiri bersama neneknya, dengan keterbatasan perhatian dan kasih sayang dari orang tua secara langsung.

“Korban merupakan anak dari pernikahan ibunya yang ketiga. Secara tidak langsung, ia jarang mendapatkan perhatian penuh karena situasi keluarga yang cukup kompleks,” tambah Bernardus.

Pada Kamis pagi sebelum kejadian, beberapa warga sempat melihat YBS duduk seorang diri di depan rumah neneknya. Padahal, pada hari itu korban seharusnya mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Beberapa jam kemudian, warga dikejutkan dengan kabar bahwa korban ditemukan meninggal dunia.

Sementara itu, MGT (47), ibu kandung korban, mengungkapkan kesedihan mendalam atas kepergian anaknya. Ia mengatakan bahwa pada malam terakhir bersama korban, dirinya sempat memberikan nasihat agar YBS tetap rajin bersekolah dan bersabar menghadapi kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.

“Saya bilang ke dia supaya tetap semangat sekolah. Saya jelaskan kalau mencari uang sekarang memang susah, tapi pendidikan itu penting untuk masa depannya,” tutur sang ibu dengan suara bergetar.

Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 WITA, korban diantar menggunakan jasa ojek menuju rumah neneknya. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang terlihat saat itu, hingga kabar duka tersebut akhirnya diterima oleh keluarga beberapa jam kemudian.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *